Geliat UMKM Bengkayang Siasati Dampak Pandemi Covid-19

Geliat UMKM Bengkayang Siasati Dampak Pandemi Covid-19

BENGKAYANG– Pembatasan pergerakan ekonomi dan sosial pada masyarakat di Kabupaten Bengkayang benar-benar memukul pelaku dan penggiat UMKM. Daya beli sektor rumah tangga turun dikarenakan pendapatan masyarakat menurun seiring dengan kerja dari rumah hingga terjadi pemutusan hubungan kerja.

Sektor rumah tangga pastinya mengalami tekanan dari sisi konsumsi karena masyarakat sudah tidak beraktivitas di luar rumah sehingga daya beli pun menurun.  UMKM adalah salah satu dari banyak pihak yang merasakan dampak negatif dari wabah Covid-19.

Namun sektor usaha kuliner masih menampakkan eksistensinya ditengah pandemi Covid-19 yang perkembangannya fluktuatif, sehingga kita harus sama-sama berjuang untuk melawan kondisi seperti ini dengan cara tetap mematuhi protokol kesehatan dengan benar. Dan harapannya masa pandemi ini agar cepat berlalu.

Demikian dikemukakan Nunung Nasuha, dari Rumah Produksi Manis Manja yang memproduksi Keripik talas, singkong dan pisang, Sumina, pemilik Rumah Produksi Tempe Barokah 86, dan Vica Murhani selaku pemilik Rumah Produksi Kacang Bawang Salwa, 26 November 2020, saat kunjungan kerja Tim Tenaga Ahli PLUT-KUMKM Provinsi Kalimantan Barat.

Rumah Produksi Manis Manja

Adapun Tim Tenaga Ahli PLUT-KUMKM Prov. Kalbar yang melakukan kunjungan selama 3 hari di Kabupaten Bengkayang yaitu Suherman, selaku Tenaga Ahli Bidang Pemasaran, Anton Juniardi, Tenaga Ahli Bidang Sumber Daya Manusia, dan Vincent J selaku Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama. Turut mendampingi Dewi Susanti, SE selaku Pelaksana pada bidang Koperasi dan UKM pada Dinas Koperasi UMKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Bengkayang.

Usaha Rumah Produksi Manis Manja, yang beralamat di Jalan Bakran Usman misalnya, dapat bertahan menghadapi dampak pandemi Covid-19 dengan strategi membentuk tim kerja yang solid.  Kerja secara berkelompok dengan minat dan bakat yang sama ini patut menjadi contoh ketika dalam kesendirian tak berdaya menghadapi persoalan membuka usaha baru yang perlu modal.

Dalam usaha berkelompok ini, personil Rumah Produk Manis Manja sudah mengetahui dengan sendirinya pekerjaannya setiap hari. Formasi siapa melakukan pekerjaan apa, caranya bagaimana, semua dilakukan dengan tanpa perintah dan semua dapat menyesuaikan ritme dan volume kerja yang ada. “Kerja bareng, kerja kompak, kerja terpadu dalam Rumah Produksi Manis Manja yang khusus dibuat untuk usaha kuliner ini pun termasuk menangani usaha catering untuk acara pesta,”ujar Nunung.

Lain lagi pengalaman Sumina, pemilik Rumah Produksi Tempe Barokah 86 yang beralamat di Jalan Swadaya, Kelurahan Bumi Mas, sejak pandemi Covid-19 usaha pembuatan tempenya tergolong laris manis. Pasalnya, disaat kebutuhan pokok lainnya sulit ditemukan dipasaran, kesadaran warga untuk mengkonsumsi makanan sehat berbasis nabati, menjadikan tempe salah satu pilihan yang laris manis sejak pandemi Covid-19 ini.

“Kita tidak mengalami kesulitan pemasaran tempe. Bahkan kita kewalahan karena volume produksi tempe kita sudah konstan 50 kg sekali produksi,”ujar Sumina. Perihal produksi tempe yang sudah konstan ini, Sumina mengemukakan alasan, pihaknya kesulitan tenaga kerja yang trampil.

Yang menjadi ancaman kelangsungan usaha tempe ini, ujar Sumina, sebenarnya adalah bahan baku kedelai yang harganya semakin naik. “Kita sulit menyiasati harga jual tempe, karena tempe ini makanan masyarakat yang sensitif sekali jika ada perubahan harga,”ujar Sumina.

Rumah Produksi Tempe Barokah 86

Beda lagi yang dialami Vica Murhani selaku pemilik Rumah Produksi Kacang Bawang Salwa, yang berlamat di Jalan Masjid Jami, Nomor 86, Bengkayang. Sebenarnya Rumah Produksi Kacang Bawang Salwa ini sama sekali tidak terpengaruh dengan pandemi Covid-19. Artinya produksi kacang gorengnya sekitar 30 kg selalu direspon pasar dengan antusias. “Tak ada masalah produksi. Tak ada masalah pemasaran. Taka da keluhan konsumen,”ujar Vica Murhani.

Keluhan Rumah Produksi Kacang Bawang Salwa dan Rumah Produksi Tempe Barokah 86 hanya diseputar ketenagakerjaan. Artinya, ketika respon pasar bagus, meskipun masyarakat terdampak pandemi Covid-19, namun perekrutan tenaga kerja tidak bisa dilakukan dengan berbagai faktor pertimbangan yang sifatnya domestik. Tenaga kerja domestik sebenarnya ada, tetapi tidak bisa rutin sesuai dengan tuntutan produksi. Ada potensi tenaga kerja dari sekitaran tempat tinggal, tetapi belum dilirik untuk meningkatkan produk, produksi dan produktivitas. “Memberdayakan warga sekitar ini yang belum dicoba,”ujar Vica Murhani.

Mengamati ritme usaha kuliner yang ada di Kabupaten Bengkayang, terkhusus era kenormalan baru sejak pandemi Covid-19 ini Suherman, selaku Tenaga Ahli Bidang Pemasaran, Anton Juniardi, Tenaga Ahli Bidang Sumber Daya Manusia, dan Vincent J selaku Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama mengemukakan setidaknya pelaku atau penggiat UMKM perlu mengenal perilaku konsumen dan bertransformasi secara proaktif agar kondisi nyata aspek hulu dan hilir produk, produksi dan produktivitas dapat terpotret secara obyektif.

Artinya, pandemi COVID-19 telah secara signifikan mengubah cara berinteraksi bisnis dengan konsumennya. Oleh karena itu, penting bagi UMKM untuk mulai memetakan pola perubahan perilaku konsumen di era kenormalan baru ini. Termasuk keinginan, harapan dan kebutuhan konsumen dalam menjalani new normal.

Rumah Produksi Kacang Bawang Salwa

Salah satu contoh adalah perilaku belanja konsumen yang mulai menghindari pertemuan fisik. Belanja secara daring pun mulai menjadi pilihan bahkan sampai Covid-19 berakhir sekali pun. Studi Nielsen tentang perilaku konsumen Indonesia juga melaporkan bahwa 30 % responden mengaku telah meningkatkan aktivitas belanja daring dan 40 % mengatakan bahwa mereka akan terus melakukan pembelian secara daring bahkan setelah pandemi berakhir yang sejalan dengan konsep new normal.

Dikemukakan, agar tetap terhubung dengan konsumen, perkuat strategi pemasaran digital. Untuk menghadapi pandemi global dan situasi kenormalan baru saat ini, para pelaku UMKM harus mencari cara untuk tetap terhubung dengan para pelanggannya.

Memanfaatkan platform media sosial secara total adalah keharusan, tidak hanya untuk menawarkan produk atau layanan terbaru, namun juga menciptakan jaringan pelanggan setia yang tidak hanya tertarik pada penawaran yang ada, tapi juga berminat untuk menjadi jaringan usaha.

Pilihan ketertarikan pelanggan terhadap cara belanja secara daring, harusnya mengarahkan bisnis UMKM untuk melebarkan cakupannya ke dunia digital dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Oleh karena itu, pelaku UMKM harus cepat beradaptasi dengan tren ini untuk mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai.

Terpenting bagi pelaku dan penggiat UMKM di Kabupaten Bengkayang, karena kekhususannya berbatasan dengan Negara Malaysia adalah tetap optimis di tengah masa sulit ini. Selain menyiapkan strategi bisnis yang baik, kesiapan psikis seorang pelaku UMKM sangatlah penting di masa sulit seperti saat ini. Ada tren terkait sentimen konsumen yang selama masa pandemi mengaku mengalami penurunan pemasukan, namun sebagian besar menunjukkan aktivitas konsumsi yang lebih tinggi. Artinya, ada peluang yang tersedia bagi pelaku usaha asal kreatif mengelola kenormalan baru.

Admin Dinkop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengunjung

Copyright © 2020 | diskopukm.kalbarprov.go.id | Diskop UKM Provinsi Kalbar